Sabtu, 03 Desember 2011

Antagonistik



ANTAGONISTIS Trichoderma koningii  TERHADAP
Fusarium batatatis

Joni Ph. Rompas, Dali, dan Supaiman[1]

 



Intisari
Kerugian akibat gangguan penyakit pada tanaman vanili, khususnya penyakit busuk batang yang disebabkan oleh  Fusarium batatatis Wr. mencapai 40-50 persen.   Berbagai cara pengendalian pernah dilakukan baik secara fisik, kimia maupun biologis.  Pengendalian secara biologis dengan memanfaatkan limbah tanaman pada beberapa tempat sudah dilakukan.  Pada penelitian ini digunakan ekstrak dari limbah tanaman ampas tebu, abu sekam, limbah bawang merah, ampas kelapa, dan kulit kopi.  Pengujian dilakukan untuk merangsang perkembangan Trichoderma koningii  sebagai agen pengedali terhadap pertumbuhan Fusarium batatatis pada tahap laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bahan organik tanaman mampu memacu pertumbuhan Trichoderma koningii untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan Fusarium batatatis.

Kata kunci : Vanili, Trichoderma koningii,  Fusarium batatatis, ekstrak limbah tanaman.




Pendahuluan

Fusarium merupakan golongan jamur penyebab penyakit pada banyak komoditi pertanian, dan tersebar luas di banyak negara dan daerah.  Kerugian akibat serangan jamur patogen ini mampu mengurangi produksi sampai 50 % dan menyebabkan kerugian secara ekonomi cukup tinggi.  Pada tanaman vanili menurut Tombe dan Arini (1997) penyakit busuk batang vanili yang disebabkan jamur patogen Fusarium batatatis  Tucker menyebabkan kerugian petani di Indonesia lebih dari Rp.11,3 milyar per tahun.

Gejala penyakit busuk batang vanili, sering kali tidak kelihatan dari luar, pembusukan jaringan terjadi dengan cepat, dan bagian batang yang terinfeksi berwarna coklat kehitaman, membusuk dan berkerut, serta dijumpai adanya bintik kekuning-kuningan yang merupakan koloni konidia.

Ada banyak cara pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerugian akbita serangan jamur patogen tersebut, diantaranya perbaikan sistem budidaya tanaman, penggunaan bahan tanam yang bebas penyakit, pengendalian dengan fungisida, dan pengendalian secara biologis.

Dalam rangka konsep pengendalian penyakit terpadu, penggunaan bahan kimia merupakan alternatif terakhir dan sebagai pelengkap saja.  Pengendalian secara biologi lebih mengutamakan pemanfaatan musuh alami atau agen pengendali hayati sebagai komponen utama.  Beberapa golongan jamur Actinomycetes, Aspergillus spp., Penicillium spp, Gliocladium spp., dan Trichoderma spp. diketahui dapat menghambat dan menekan pertumbuhan dan perkembangan konidia Fusarium batatatis (Tombe dan Sitepu (1994).

Pemanfaatan limbah tanaman yang diinvestasikan ke tanah, dimaksudkan sebagai sumber bahan organik bagi agen pengendali untuk memacu pertumbuhannya sebagai pesaing bagi patogen.  Adam et al ., (1968) mengemukakan bahwa pada tahap awal dekomposisi bahan organik dan nisbah C dan N tinggi, laju dekomposisi berjalan dengan cepat dan sejumlah C dilepaskan dalam bentuk CO2 yang merupakan sumber energi bagi jasad renik.  Selanjutnya dikatakan dalam keadaan potimum jasad renik berkembang cepat, sehingga N yang tersedia dimanfaatkan untuk pertumbuhan sehingga akhirnya nisbah C dan N berkurang.

Beberapa diantara hasil penelitian pengendalian penyakit dengan memanfaatkan limbah tanaman yaitu pengendalian penyakit busuk akar pada kacang merah dengan pemberian ampas kopi (Adam et al., 1968) dan penelitian Hermanto (1982) ternyata limbah daun kopi dan duan orok-orok dapat menekan perkembangan dan pertumbuhan Phytophthora palmivora Bult. penyebab penyakit busuk pangkal batang tanaman lada.

Antagonisme merupakan suatu mekanisme penekanan pertumbuhan dan perkembangan patogen yang meliputi antibiosis, kompetisi dan hiperparasitisme (Mukerji dan Garg, 1988).  Antibiosis adalah penghambatan pertumbuhan atau perkembangan dan penghancuran suatu organisme oleh hasil metabolisme organisme lain.  Hasil metabolisme tersebut bersifat racun dan dikenal sebagai antibiotik.  Penelitian Dennis dan Webster (1971) menyebutkan bahwa Trichoderma  menghasilkan antibiotik yang menguap (volatil) dan tidak menguap (non volatil).  Sedangkan kompetisi adalah persaingan dua atau lebih organisme dalam memperoleh nutrisi, oksigen, dan ruang.  Upaya yang dapat dilakukan untuk merangsang pertumbuhan organisme antagonis adalah dengan memberikan bahan organik ke media tumbuhn tanaman.  Dikatakan selanjutnya hiperparasitisme adalah bentuk penghambatan dan penghancuran oleh agen pengendali dengan memarasit jamur patogen, melalui hifa dengan membentuk haustoria dan dapat pula menyebabkan lisis hifa jamur patogen.



Bahan, Alat dan Metode Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan adalah isolat Fusarium batatatis, isolat Trichoderma koningii , Media tumbuh jamur PDA, ampas tebu, abu sekam padi, kulit kopi, ampas kelapa, limbah bawang merah, alkohol 70 %, sublimat 0,1 %, formalin 4 %, spiritus, kertas lakmus.

Alat-alat yang dipakai pada penelitian ini meliputi mikroskop, cawan Petri, bunsen, erlenmeyer, autoclave, oven, inkubator, gelas ukur, gelas piala, tabung reaksi, jarum ose, jarum preparat, gelas benda, jangka sorong, termohigrometer, kamera, alat pengukur (mistar) dan alat tulis.

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 ulangan.  Media tumbuh dijadikan perlakuan bahan organik untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jamur antagonis Trichoderma koningii, yaitu media ekstrak ampas tebu (A), ekstrak abu sekam padi (B), ekstrak limbah bawang merah (C), ekstrak ampas kelapa (D), ekstrak kulit kopi (E), dan sebagai kontrol digunakan media Potato Dekstrosa Agar (F).

Isolat Fusarium batatatis  diambil dari jaringan tanaman vanili yang terserang, dengan membiakkan dalam media PDA.  Sedangkan isolat Trichoderma koningii  diperoleh dari rhizosfer tanaman karet juga dengan dibiakkan phialosporanya pada media PDA.

Pengamatan dilakukan terhadap hambatan antibiotik, persentase hambatan pertumbuhan, populasi konidia pada media tumbuh.

Sedangkan untuk pengamatan persentase hambatan pertumbuhan dengan cara menumbuhkan dua isolat dari hasil biakan (8 dan 3 hari) dengan jarak 4 cm pada setiap media bahan organik perlakuan, dan diinkubasikan pada suhu kamar.  Hambatan Persentase tumbuh menggunakan formula modifikasi Basuki (1985) sebagai berikut:


                                                X  - Y
Persentase hambatan =                          x 100 %
                                                     X
Dimana : X = jari-jari koloni F. batatatis yang menjauhi pusat koloni T. koningii
                Y = jari-jari koloni F. batatatis yang menuju pusat koloni T. koningii

Pengamatan populasi konidia F. batatatis, dilakukan dengan menggunakan alat Haemocytometer dan dilakukan sebanyak sepuluh kali setiap ulangan.

Untuk pengamatan antibiosis dilakukan dengan cara Isolat F. Batatatis  yang berumur 8 hari bagian atas  cawan Petri dan T. koningii yang berumur 3 hari pada bagian bawahnya pada yang berisi media bahan organik setiap perlakuan, dan diinkubasikan pada suhu kamar. 

                                                X  - Y
Persentase hambatan =                          x 100 %
                                                     X
Dimana : X = diameter koloni F. batatatis yang tidak dipengaruhi T. koningii
                Y = diameter koloni F. batatatis yang dipengaruhi T. koningii



Hasil Penelitian

            Dari hasil pengamatan dan analisis statistik (transformasi Vx) diketahui bahwa  ekstrak limbah bahan organik berpengaruh sangat nyata terhadap kemampuan T. koningii  menghambat pertumbuhan dan perkembangan F. batatatis.  Terutama pada media bahan organik ekstrak ampas tebu dengan persentase hambatan mencapai 51, 68 persen.
           
            Demikian pula dengan hasil pengamatan persentase hambatan koloni, didapatkan pengaruh yang sangat nyata dari perlakuan media bahan organik, dimana pada media ekstrak bahan organik limbah ampas tebu T. koningii mampu menghambat  koloni F. batatatis mencapai 35,03 %.

            Untuk pengamatan populasi konidia F. batatatis  pada berbagai media tumbuh ekstrak bahan organik didapatkan bahwa media tumbuh ekstrak bahan organik berpengaruh sangat nyata terhadap kerapatan populasi F. batatatis .  Ekstrak limbah bawang merah mampu menekan populasi konidia mencapai hanya 0,42 x 107.
Sedangkan pada perlakuan kontrol media PDA populasi mencapai 1,04 x 107. 


Kesimpulan

            Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak bahan organik tanaman mampu memacu pertumbuhan Trichoderma koningii untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan Fusarium batatatis.  Studi lebih lanjut perlu dilakukan terhadap kandungan C/N ratio ekstrak limbah bahan organik tanaman, diketahui bahwa ampas tebu yang memiliki C/N ratio tinggi lebih baik dibandingkan ekstrak bahan organik lainnya.


Daftar Pustaka

Agrios, G.N. 1988.  Plant pathology. Third Edition. Academy Press, New York.
Booth, C.  1971.  The Genus Fusarium.  Commonwealth. Mycological Institute, Kew Surrey and England.
Basuki.  1985. Peranan belerang sebagai pemacu pengendalian penyakit akar putih pada karet.  Disertasi S-3 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.  Yogyakarta.
Dennis, C. and Webster, J. 1971. Antagonistic properties of species groups of Trichoderma . Production of non volatile antibiotics.  Transactions British Mycological Society 57 (1):25-39.
Mukerji, K.G. and K.L. Grag. 1988.  Biocontrol of Plant diseases.  CRC Press, Inc.  Boca Roton.  Florida.
Tombe, M. dan D. Sitepu.  1994.  Penyakit tanaman vanili di Indonesia.  Balai Penelitian Obat dan Rempah. 103-108.
__________ Arini.  1997.  Pengaruh pemberian pupuk kandang terhadap intensitas serangan Fusarium oxysporum penyebab penyakit busuk batang pada tanaman vanili.  Seminar Nasional PFI dan Kongres Nasional XI.             
Martono. E.  1997. Makalah Metofologi Penelitian dan Memanfaatkan Literatur serta Penyusunan dan Penulisan Laporan.  Program pascasarjana Bidang Ilmu-ilmu Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Notohadiningrat, T.  1997. Memahami Penelitian (Understanding Research).  Program pascasarjana Bidang Ilmu-ilmu Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
________________. 1977. Metode Penelitian dan Penulisan Ilmiah. Program pascasarjana Bidang Ilmu-ilmu Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Rompas, J. Ph. 1997. Peranan Faktor Lingkungan Terhadap Keberhasilan Pengendalian Penyakit Busuk Batang Vanili. Tesis S-2 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (tidak dipublikasikan).
Rumawas, F. 1984.  Metodologi Penelitian. Pustaka IPB, Bogor.
Shah, P. Vimal.  1987. Menyususn Laporan Penelitian. Terjemahan Muhajir D. 1992. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Triharso.  1991.  Pedoman Penulisan Tesis.  Program pascasarjana Bidang Ilmu-ilmu Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.



Lampiran : Hasil uji hambatan pertumbuhan F. batatatis,  Populasi Konidia F. batatatis,  
                   dan hambatan antibiotik T. koningii.

Perlakuan
% hambatan pertumbuhan
F. batatatis
Polulasi Konidia
F. batatatis (107)
% hambatan antibiotik
T. koningii

A
B
C
D
E
F

35,03 b
27,44 a
30,39 ab
34,87 b
29,53 ab
24,68 a

0,97 b
0,91 b
0,42 a
1,03 b
0,50 a
1,04 b

51,68 d
35,11 c
18,30 a
34,28 c
26,36 b
24,59 ab

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada level 0,05




[1]               PS Hama dan Penyakit Tumbuhan Fak. Pertanian Universitas Palembang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar