ANTAGONISTIS Trichoderma koningii TERHADAP
Fusarium batatatis
Intisari
Kerugian akibat
gangguan penyakit pada tanaman vanili, khususnya penyakit busuk batang yang
disebabkan oleh Fusarium batatatis Wr. mencapai 40-50 persen. Berbagai cara pengendalian pernah dilakukan
baik secara fisik, kimia maupun biologis.
Pengendalian secara biologis dengan memanfaatkan limbah tanaman pada
beberapa tempat sudah dilakukan. Pada
penelitian ini digunakan ekstrak dari limbah tanaman ampas tebu, abu sekam,
limbah bawang merah, ampas kelapa, dan kulit kopi. Pengujian dilakukan untuk merangsang
perkembangan Trichoderma koningii sebagai agen pengedali terhadap pertumbuhan Fusarium batatatis pada tahap
laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bahan organik tanaman mampu memacu
pertumbuhan Trichoderma koningii untuk
menghambat pertumbuhan dan perkembangan Fusarium
batatatis.
Kata kunci : Vanili, Trichoderma koningii, Fusarium batatatis, ekstrak limbah tanaman.
Pendahuluan
Fusarium merupakan golongan
jamur penyebab penyakit pada banyak komoditi pertanian, dan tersebar luas di
banyak negara dan daerah. Kerugian
akibat serangan jamur patogen ini mampu mengurangi produksi sampai 50 % dan
menyebabkan kerugian secara ekonomi cukup tinggi. Pada tanaman vanili menurut Tombe dan Arini
(1997) penyakit busuk batang vanili yang disebabkan jamur patogen Fusarium batatatis Tucker menyebabkan kerugian petani di
Indonesia lebih dari Rp.11,3 milyar per tahun.
Gejala penyakit busuk
batang vanili, sering kali tidak kelihatan dari luar, pembusukan jaringan
terjadi dengan cepat, dan bagian batang yang terinfeksi berwarna coklat
kehitaman, membusuk dan berkerut, serta dijumpai adanya bintik
kekuning-kuningan yang merupakan koloni konidia.
Ada banyak cara
pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerugian akbita serangan
jamur patogen tersebut, diantaranya perbaikan sistem budidaya tanaman,
penggunaan bahan tanam yang bebas penyakit, pengendalian dengan fungisida, dan
pengendalian secara biologis.
Dalam rangka konsep
pengendalian penyakit terpadu, penggunaan bahan kimia merupakan alternatif
terakhir dan sebagai pelengkap saja.
Pengendalian secara biologi lebih mengutamakan pemanfaatan musuh alami
atau agen pengendali hayati sebagai komponen utama. Beberapa golongan jamur Actinomycetes, Aspergillus spp., Penicillium spp, Gliocladium
spp., dan Trichoderma spp. diketahui
dapat menghambat dan menekan pertumbuhan dan perkembangan konidia Fusarium batatatis (Tombe dan Sitepu
(1994).
Pemanfaatan limbah
tanaman yang diinvestasikan ke tanah, dimaksudkan sebagai sumber bahan organik
bagi agen pengendali untuk memacu pertumbuhannya sebagai pesaing bagi patogen. Adam et
al ., (1968) mengemukakan bahwa pada tahap awal dekomposisi bahan organik
dan nisbah C dan N tinggi, laju dekomposisi berjalan dengan cepat dan sejumlah
C dilepaskan dalam bentuk CO2 yang merupakan sumber energi bagi jasad
renik. Selanjutnya dikatakan dalam
keadaan potimum jasad renik berkembang cepat, sehingga N yang tersedia
dimanfaatkan untuk pertumbuhan sehingga akhirnya nisbah C dan N berkurang.
Beberapa diantara
hasil penelitian pengendalian penyakit dengan memanfaatkan limbah tanaman yaitu
pengendalian penyakit busuk akar pada kacang merah dengan pemberian ampas kopi
(Adam et al., 1968) dan penelitian
Hermanto (1982) ternyata limbah daun kopi dan duan orok-orok dapat menekan
perkembangan dan pertumbuhan Phytophthora
palmivora Bult. penyebab penyakit busuk pangkal batang tanaman lada.
Antagonisme merupakan
suatu mekanisme penekanan pertumbuhan dan perkembangan patogen yang meliputi
antibiosis, kompetisi dan hiperparasitisme (Mukerji dan Garg, 1988). Antibiosis adalah penghambatan pertumbuhan
atau perkembangan dan penghancuran suatu organisme oleh hasil metabolisme
organisme lain. Hasil metabolisme
tersebut bersifat racun dan dikenal sebagai antibiotik. Penelitian Dennis dan Webster (1971)
menyebutkan bahwa Trichoderma menghasilkan antibiotik yang menguap (volatil)
dan tidak menguap (non volatil).
Sedangkan kompetisi adalah persaingan dua atau lebih organisme dalam
memperoleh nutrisi, oksigen, dan ruang.
Upaya yang dapat dilakukan untuk merangsang pertumbuhan organisme
antagonis adalah dengan memberikan bahan organik ke media tumbuhn tanaman. Dikatakan selanjutnya hiperparasitisme adalah
bentuk penghambatan dan penghancuran oleh agen pengendali dengan memarasit
jamur patogen, melalui hifa dengan membentuk haustoria dan dapat pula
menyebabkan lisis hifa jamur patogen.
Bahan, Alat dan Metode
Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan adalah isolat Fusarium batatatis, isolat Trichoderma koningii , Media tumbuh jamur PDA, ampas tebu, abu
sekam padi, kulit kopi, ampas kelapa, limbah bawang merah, alkohol 70 %,
sublimat 0,1 %, formalin 4 %, spiritus, kertas lakmus.
Alat-alat yang dipakai pada penelitian ini
meliputi mikroskop, cawan Petri, bunsen, erlenmeyer, autoclave, oven,
inkubator, gelas ukur, gelas piala, tabung reaksi, jarum ose, jarum preparat,
gelas benda, jangka sorong, termohigrometer, kamera, alat pengukur (mistar) dan
alat tulis.
Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak
Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Media tumbuh dijadikan perlakuan bahan
organik untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jamur antagonis Trichoderma koningii, yaitu media
ekstrak ampas tebu (A), ekstrak abu sekam padi (B), ekstrak limbah bawang merah
(C), ekstrak ampas kelapa (D), ekstrak kulit kopi (E), dan sebagai kontrol
digunakan media Potato Dekstrosa Agar (F).
Isolat Fusarium
batatatis diambil dari jaringan
tanaman vanili yang terserang, dengan membiakkan dalam media PDA. Sedangkan isolat Trichoderma koningii diperoleh dari rhizosfer tanaman karet juga
dengan dibiakkan phialosporanya pada media PDA.
Pengamatan dilakukan terhadap hambatan antibiotik,
persentase hambatan pertumbuhan, populasi konidia pada media tumbuh.
Sedangkan untuk pengamatan persentase hambatan
pertumbuhan dengan cara menumbuhkan dua isolat dari hasil biakan (8 dan 3 hari)
dengan jarak 4 cm pada setiap media bahan organik perlakuan, dan diinkubasikan
pada suhu kamar. Hambatan Persentase
tumbuh menggunakan formula modifikasi Basuki (1985) sebagai berikut:
X - Y
X
Dimana : X = jari-jari koloni F. batatatis yang menjauhi pusat koloni T. koningii
Y = jari-jari koloni F. batatatis yang menuju pusat koloni T. koningii
Pengamatan populasi konidia F. batatatis, dilakukan dengan menggunakan alat Haemocytometer dan
dilakukan sebanyak sepuluh kali setiap ulangan.
Untuk pengamatan antibiosis dilakukan dengan cara
Isolat F. Batatatis yang berumur 8 hari bagian atas cawan Petri dan T. koningii yang berumur 3 hari pada bagian bawahnya pada yang
berisi media bahan organik setiap perlakuan, dan diinkubasikan pada suhu
kamar.
X - Y
X
Dimana : X = diameter koloni F. batatatis yang tidak dipengaruhi T. koningii
Y = diameter koloni F. batatatis yang dipengaruhi T.
koningii
Hasil Penelitian
Dari hasil pengamatan dan
analisis statistik (transformasi Vx) diketahui bahwa ekstrak limbah bahan organik berpengaruh
sangat nyata terhadap kemampuan T.
koningii menghambat pertumbuhan dan
perkembangan F. batatatis. Terutama pada media bahan organik ekstrak
ampas tebu dengan persentase hambatan mencapai 51, 68 persen.
Demikian pula dengan hasil
pengamatan persentase hambatan koloni, didapatkan pengaruh yang sangat nyata
dari perlakuan media bahan organik, dimana pada media ekstrak bahan organik
limbah ampas tebu T. koningii mampu
menghambat koloni F. batatatis mencapai 35,03 %.
Untuk pengamatan populasi
konidia F. batatatis pada berbagai media tumbuh ekstrak bahan
organik didapatkan bahwa media tumbuh ekstrak bahan organik berpengaruh sangat
nyata terhadap kerapatan populasi F.
batatatis . Ekstrak limbah bawang
merah mampu menekan populasi konidia mencapai hanya 0,42 x 107.
Sedangkan pada perlakuan kontrol media PDA populasi mencapai 1,04 x 107.
Kesimpulan
Dari
hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak bahan organik tanaman mampu
memacu pertumbuhan Trichoderma koningii untuk
menghambat pertumbuhan dan perkembangan Fusarium
batatatis. Studi lebih lanjut perlu
dilakukan terhadap kandungan C/N ratio ekstrak limbah bahan organik tanaman,
diketahui bahwa ampas tebu yang memiliki C/N ratio tinggi lebih baik
dibandingkan ekstrak bahan organik lainnya.
Daftar Pustaka
Agrios, G.N. 1988.
Plant pathology. Third Edition. Academy Press, New York.
Booth, C. 1971. The Genus Fusarium. Commonwealth. Mycological Institute, Kew
Surrey and England.
Basuki. 1985. Peranan belerang sebagai pemacu pengendalian
penyakit akar putih pada karet. Disertasi
S-3 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Dennis, C. and Webster, J. 1971. Antagonistic properties of species
groups of Trichoderma . Production of
non volatile antibiotics. Transactions
British Mycological Society 57 (1):25-39.
Mukerji, K.G. and K.L. Grag. 1988.
Biocontrol of Plant diseases. CRC
Press, Inc. Boca Roton. Florida.
Tombe, M. dan D.
Sitepu. 1994.
Penyakit tanaman vanili di Indonesia.
Balai Penelitian Obat dan Rempah. 103-108.
__________ Arini. 1997.
Pengaruh pemberian pupuk kandang terhadap intensitas serangan Fusarium oxysporum penyebab penyakit busuk
batang pada tanaman vanili. Seminar
Nasional PFI dan Kongres Nasional XI.
Martono. E. 1997. Makalah Metofologi Penelitian dan
Memanfaatkan Literatur serta Penyusunan dan Penulisan Laporan. Program pascasarjana Bidang Ilmu-ilmu
Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Notohadiningrat, T. 1997.
Memahami Penelitian (Understanding Research).
Program pascasarjana Bidang
Ilmu-ilmu Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
________________. 1977.
Metode Penelitian dan Penulisan Ilmiah. Program pascasarjana Bidang Ilmu-ilmu
Pertanian. Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta.
Rompas, J. Ph. 1997.
Peranan Faktor Lingkungan Terhadap Keberhasilan Pengendalian Penyakit Busuk
Batang Vanili. Tesis S-2 Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (tidak
dipublikasikan).
Rumawas, F. 1984. Metodologi Penelitian. Pustaka IPB, Bogor.
Shah, P. Vimal. 1987. Menyususn Laporan Penelitian.
Terjemahan Muhajir D. 1992. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Triharso. 1991.
Pedoman Penulisan Tesis. Program pascasarjana Bidang Ilmu-ilmu
Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Lampiran : Hasil uji hambatan pertumbuhan F. batatatis, Populasi
Konidia F. batatatis,
dan hambatan
antibiotik T. koningii.
|
Perlakuan
|
% hambatan pertumbuhan
F. batatatis
|
Polulasi Konidia
F. batatatis (107)
|
% hambatan antibiotik
T. koningii
|
|
A
B
C
D
E
F
|
35,03
b
27,44
a
30,39
ab
34,87
b
29,53
ab
24,68
a
|
0,97
b
0,91
b
0,42
a
1,03
b
0,50 a
1,04 b
|
51,68 d
35,11 c
18,30 a
34,28 c
26,36 b
24,59 ab
|
Angka yang diikuti oleh
huruf yang sama tidak berbeda nyata pada level 0,05
Tidak ada komentar:
Posting Komentar